Gempa di Sungai Penuh & Kerinci

Akmaluddin

Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh adalah daerah yang dilewati sesar/patahan besar yang dikenal dengan nama Sesar Semangko. Sesar ini merupakan jenis sesar geser (strike slip fault) yang membelah pulau Sumatera dari Aceh sampai Bengkulu sepanjang Bukit Barisan.

Sesar besar biasanya terdiri dari beberapa segmen sesar dan biasanya ada juga yang saling berpasangan. Pergerakan sesar yang saling berpasangan ini akan membentuk tinggian pop up dan pull apart (lembah).

Lembah Kerinci adalah salah satu contoh ideal lembah yang terbentuk akibat dari sesar yang berpasangan. Dua pasang sesar yang membentuk lembah Kerinci yaitu Sesar Siulak-Sungai Abu dan Sesar Siulak-Sungai Penuh. Disamping itu ada segmen sesar Dikit-Lempur, yang berada di sepanjang perbukitan barat G.Masurai melewati Renah Kemumu, Danau Kaco, sampai Gunung Kunyit.

Keterangan foto tidak tersedia.
Lembah Kerinci akibat dari pergerakan sesar yang berpasangan (Pull Apart). Gempa 7 Oktober 1995 akibar pergerakan Sesar Siulak – S.Abu.

Sejarah Gempa Kerinci

Sejarah mencatat, sudah terjadi tiga kali gempa besar di Kerinci, yaitu pada tahun 1909 (7.6 SR), 1995 (7.0SR), dan 2009 (6.7 SR). Gempa di Kerinci merupakan jenis gempa dangkal, di mana kedalaman hiposentrumnya 10-35km. Gempa dangkal terjadi akibat aktifnya sesar yang berada di daratan, dalam hal ini di Kerinci adalah akibat kompleks Sesar Semangko. Gempa dangkal sifatnya merusak di sekitar titik gempa (episentrum) terutama untuk magnitude >5 SR.

Keterangan foto tidak tersedia.
Sejarah Gempa yang terjadi sepanjang Sesar Semangko. Gempa di Kerinci yang dilingkari biru

Gempa 1909 7.6 SR

Gempa yang terjadi di Tahun 1909 dengan kekuatan 7.6 SR adalah gempa terbesar dalam sejarah Kerinci. Tidak diketahui dengan pasti lokasi episentrumnya, namun dari lokasi di peta yang ada diyakini gempa ini akibat pergerakan segmen sesar Dikit- Lempur. Menurut Robert Cribb (2000) dalam bukunya Historical Atlas of Indonesia, disebutkan 230 orang meninggal dalam gempa tahun 1909 ini.

Gempa 1995 7.0 SR

Dua puluh tiga tahun yang lalu, tepatnya 7 Oktober 1995, Gempa dengan kekuatan 7 SR kedalaman 33km mengguncang Kerinci dengan titik episentrum di Desa Benik pada koordinat 2.045°S 101.436°E. Gempa ini dipicu pergerakan segmen sesar Siulak-Sungai Abu. Tercatat 84 orang meninggal dunia dan 3.700 orang luka parah dan ringan. Gempa ini meninggalkan trauma yang sangat mendalam bagi masyarakat Kerinci.

Saat terjadi gempa ini, saya baru beberapa bulan menginjakkan kaki di Yogyakarta, hijrah untuk menuntut ilmu dari SMAN Hiang ke Teknik Geologi UGM. Saat itu alat komunikasi berupa ponsel belum lumrah digunakan. Kontak jarak jauh dulu masih menggunakan surat telegram. Karena minimnya informasi, gempa baru saya ketahui beberapa hari setelahnya, termasuk informasi keadaan orang tua saya di Desa Pondok Beringin – Semerah. Keadaan yang sama juga dirasakan oleh ratusan mahasiswa asal Kerinci di Yogyakarta.

Masjid Nurul Iman di Desa Kota Iman adalah saksi bisu kedahsyatan gempa di tahun 1995. Masjid ini dijadikan sebagai “Monumen Gempa” oleh Pemda Kerinci. Di monumen ini terdapat diorama yang menjelaskan informasi gempa dan korban jiwa dan beberapa foto kerusakan akibat gempa. Monumen ini diharapkan bisa menjadi media untuk mengedukasi masyarakat akan rawannya Kerinci dari bencana gempabumi.

Masjid ini sengaja dibiarkan kondisinya, dengan tetap menampakkan retakan akibat gempa sebagai monumen, sehingga fungsinya sudah berubah dan tidak seharusnya digunakan beribadah lagi demi keselamatan masyarakat. Jika ada kesempatan, singgahlah sebentar untuk mengenang dan memanjatkan doa untuk saudara-saudara kita yang menjadi korban gempabumi.

Keterangan foto tidak tersedia.
Retakan pada Masjid Nurul Iman dibiarkan asli apa adanya sebagai “Monumen Gempa”.

Gempa 2009 (6.7 SR)

Gempa pada tanggal 1 Oktober 2009 yang mengguncang Kerinci ini terjadi sehari setelah gempa besar (7.6 SR) 30 Sept 2009 yang mengguncang Pariaman dan sekitarnya. Gempa 1 Oktober ini terjadi akibat pergerakan segmen sesar Dikit-Lempur. Episentrum gempa terletak di perbatasan antara Muko-Muko dan Lempur Kerinci, pada koordinat 2.482°S 101.524°E. Kedalaman gempa (hiposentrum) yaitu 9 km, termasuk gempa yang sangat dangkal. Makanya daerah yang paling parah kerusakannya adalah di daerah Lempur dan sekitarnya.

Potensi Likuifaksi di Kerinci

Likuifaksi terjadi jika sedimen yang mengandung air (akuifer) tertekan karena goyangan gempa, akibatnya air tersebut akan naik ke atas tanah (lempung) yang keras dan mencairkan lempung tersebut menjadi bubur. Jika ada perbedaan elevasi, maka lumpur tersebut akan bergerak seperti yang terjadi di Potebo Palu.

Apakah Lembah Kerinci juga berpotensi terjadi Likuifaksi seperti halnya di Palu? Jawabannya: Ya, sangat berpotensi. Banyak kesamaan antara Palu dan Lembah Kerinci, yaitu secara morfologi dan litologi penyusunnya. Bentuk lembah di kedua daerah ini sama-sama diapit oleh perbukitan patahan dan tersusun oleh endapan aluvial.

Keterangan foto tidak tersedia.
Peta Geologi lembar Sungai Penuh dan sekitarnya (Pardede dkk, 1992), diterbitkan oleh Badan Geologi. Garis-garis hitam adalah garis-garis Sesar/Patahan.

Tata Kota yang Bersahabat dengan Gempa

Undang-Undang sudah mensyaratkan supaya pendapat ahli geologi selalu dipertimbangan dalam menyusun tata kota dan membangun infrastruktur. Namun pada praktiknya, pendapat ahli geologi tak jarang justru dianggap menghambat pembangunan dan menghalangi investor masuk. Ketika sudah terjadi bencana, pengembang kemudian baru sadar ternyata banyak bangunan yang terletak di zona rawan gempa.

Peta geologi dan peta gempa sudah dipublikasikan, studi-studi tentang gempa juga sudah banyak, termasuk untuk daerah Kerinci dan Sungai Penuh. Kota Sungai Penuh sangat perlu untuk kita khawatirkan karena memang jika dilihat di Peta Geologi, Sungai Penuh tepat dilalui oleh sesar yang merupakan penerusan dari sesar Sulak.

Bumi selalu bergerak dengan dinamis, kapan dan di manakah gempa berikutnya? Hanya Allah S.W.T, tuhan semesta alam yang tahu jawabannya. Para ahli hanya bisa memperkirakan daerah yang memiliki potensi terjadinya gempa. Bahkan kadang juga terjadi gempa di daerah yang tidak diperkirakan sebelumnya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari bencana yang lebih besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *