Lompobattang Si Perut Besar dan Kerumitan Vulkanisme Sulawesi Selatan

Awang Satyana

Walaupun gunung-gunungapinya telah mati, Sulawesi Selatan pernah ditempati gunung-gunungapi (vulkanisme) yang boleh jadi pembentukannya paling kompleks di Indonesia selama 60 juta tahun terakhir. Di sinilah tempat gunung-gunungapi terbentuk dinamis merespon gerak-gerak tektonik lempeng: subduksi lempeng samudra, penutupan samudra, dan benturan teran benua.

“Sulawesi tidak bisa dianggap sebagai busur kepulauan biasa: magmatisme yang berkaitan dengan subduksi tidak cukup banyak. Namun daerah ini menunjukkan konsekuensi dari kolisi dan penebalan kerak akibat pembentukan magma,” tulis Mireille Polve (1997), seorang ahli geokimia gunungapi dari Perancis. Sementara Steve Bergman (1996), ahli dari Amerika Serikat menyatakan, “Bagian barat Sulawesi memainkan peran dalam mengungkap evolusi Indonesia yang rumit dan menjelaskan kondisi magmatik dan temporal dari sebuah zona kolisi antar benua.”

Tulisan berikut dan gambar-gambar terlampir semoga dapat menjelaskan kerumitan vulkanisme Sulawesi Selatan dan tektonik penyebabnya.

Tektonisme Sulawesi

Sulawesi bagian barat yang bagian terbesarnya adalah wilayah Provinsi Sulawesi Selatan menurut ilmu geologi, dulu 65 juta tahun yang lalu adalah bagian dari Kalimantan sebelah timur. Saat itu ia merupakan tepi timur-tenggara benua Sundaland yang ditempati Kalimantan, Jawa, Sumatra, dan daratan di antara mereka. Ke sebelah timurnya adalah samudra bernama Ceno-Tethys. Lempeng samudra ini menunjam (subduksi) ke arah barat-baratlaut di bawah tepi timur Sundaland yang ditempati Sulawesi bagian barat.

Lalu kira-kira pada 45 juta tahun yang lalu, subduksi ini bergeser pindah ke arah utara membentuk busur Sulawesi Utara. Kemudian mulai pada 30 juta tahun yang lalu ada sekumpulan teran (blok litosfer) benua asal Australia yang dinamai “Sula Spur” datang mendekati Sulawesi bagian barat dan Sulawesi Utara. Sekumpulan teran yang mendekat ini telah memperlambat pembukaan Selat Makassar yang telah terjadi dari sekitar 20 juta tahun sebelumnya (50 juta tahun yang lalu). Pembukaan Selat Makassar ini telah memisahkan Sulawesi bagian barat dari Kalimantan.

Akhirnya pada 26 juta tahun yang lalu Sula Spur kontak dengan jalur subduksi Sulawesi Utara, dan satu juta tahun kemudian (25 Ma) Sula Spur menghentikan subduksi tersebut karena teran ini membentur (collided/docked) busur Sulawesi Utara.

Benturan ini telah mengubah signifikan dimensi teran-teran Sula Spur sendiri maupun Sulawesi bagian barat dan Sulawesi Utara. Bagian Sula Spur ini antara lain adalah Buton, Sulawesi Tenggara, dan Banggai. Benturan ini pada sekitar 23 juta tahun yang lalu telah menjepit kerak samudra di antara Sula Spur dan busur Sulawesi Utara. Kerak samudra itu kemudian menjadi bagian dari Lengan Sulawesi Timur dan Lengan Sulawesi Tenggara. Benturan teran benua Sula Spur dengan teran benua Sulawesi bagian barat juga telah mengangkat jalur kerak batuan malihan/metamorf yang kini menjadi bagian Sulawesi Tengah (Zona Pompangeo) dan Sulawesi Tenggara (Zona Mekongga). Pembentukan batuan malihannya sendiri sudah lama terjadi yaitu saat lempeng samudra Ceno-Tethys subduksi ke bawah Sulawesi bagian barat.

Setelah benturan terjadi, terbentuklah cekungan-cekungan laut dalam di sekitar lengan-lengan Sulawesi: Cekungan Bone, Cekungan Gorontalo, Cekungan Tolo, juga sesar-sesar mendatar besar yang kini melintasi Sulawesi seperti Sesar Palu, Sesar Walanae, Sesar Matano, Sesar Lawanopo. Pembukaan cekungan dan sesar mendatar besar ini merupakan mekanisme yang umum terjadi mengikuti benturan oleh proses tektonik/struktur pascabenturan (postcollision tectonics/structures).

Begitulah, maka bentuk Pulau Sulawesi menjadi begitu unik sebab banyak proses tektonik yang terlibat di dalam riwayatnya. 

Sementara itu, pada periode yang sama terutama dari 45 juta tahun yang lalu sampai sekarang sisi barat dan selatan Sundaland yang diduduki Sumatra dan Jawa hanya mengalami tektonik yang simpel yaitu berupa penunjaman/subduksi lempeng samudra Hindia atau proto-Hindia ke bawah Sumatra dan Jawa.

Peta rekonstruksi tektonik Indonesia dari 65 ke 5 juta tahun yang lalu (Ma) – Hall (2012). Peta menunjukkan Sulawesi bagian barat dari waktu ke waktu mengalami subduksi lempeng samudra (warna biru), pemisahan dari Kalimantan oleh pembukaan Selat Makassar, dan benturan oleh teran-teran benua dalam kelompok “Sula Spur” (warna merah). Semua ini menyebabkan kerumitan vulkanisme di Sulawesi Selatan. Sisi barat dan sisi selatan Sundaland di Sumatra dan Jawa jauh lebih simpel: hanya subduksi terus pada waktu yang sama.

Vulkanisme

Kerumitan geologi/tektonik yang dialami Sulawesi bagian barat dan kesederhanaan tektonik yang terjadi di Sumatra-Jawa pada periode yang sama itu menghasilkan gunung-gunungapi yang sepadan, rumit di Sulawesi Barat dan simpel di Sumatra dan Jawa. 

Magmatisme dan vulkanisme Sulawesi bagian barat atau Sulawesi Selatan rumit mengikuti kerumitan geodinamika/tektonik regional yang berefek atas wilayah ini. Saat subduksi terjadi, saat subduksi melambat, saat benturan teran-teran Sula Spur terjadi telah mengakibatkan variasi magmatisme dan vulkanisme di Sulawesi Selatan. 

Variasi karakter magmatisme dan vulkanisme ini dapat dipahami bila dilakukan analisis geokimia atas batuan-batuan vulkanik, dan mengetahui umurnya. Analisis geokimia meliputi: senyawa oksida yang utama, unsur-unsur yang jumlahnya minor atau hanya jejak/trace, sampai unsur-unsur yang langka/REE –rare earth elements. Sementara untuk mengetahui umur absolut batuan dilakukan melalalui radiometri menggunakan unsur-unsur berisotop. Semua analisis canggih ini tentu mahal dan sebagian belum bisa dilakukan di Indonesia.

Untunglah ada para geolog yang tertarik mempelajarinya sehingga kerumitan vulkanisme Sulawesi Selatan akhirnya dapat diurai. Para ahli ini lintas negara, mereka mempelajarinya dan mempublikasikan penemuan-penemuannya. Penemuan-penemuan ini bermanfaat tidak hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk keperluan eksplorasi mineral seperti emas, perak, tembaga yang dibawa vulkanisme, juga eksplorasi migas yang rembesan minyak dan gasnya di permukaan ada yang muncul di antara batuan-batuan vulkanik.

Menyebut mereka yang pernah meneliti vulkanisme Sulawesi Selatan adalah terutama: Marlina Elburg dan John Foden (Australia); Mireille Polvé, René Maury, Hervé Bellon, Claude Rangin (Prancis); Suyatno Yuwono, Bambang Priadi, Rubini Soeria Atmadja (Indonesia); Steve Bergman, Dan Coffield, James Talbot, Dick Garrard (Amerika Serikat). 

Penemuan mereka lebih kurang sama. Misalnya Elburg dan Foden (1999) yang secara definitif membagi gunung-gunungapi di Sulawesi Selatan berdasarkan periode tektoniknya: (1) pre-collision, (2) syn-collision, (3) post-collision, maksudnya  saat subduksi masih terjadi, saat subduksi mau berhenti, dan saat subduksi sudah selesai sebab sudah ada benturan (collision) dari teran benua. Setiap periode tektonik ini menghasilkan magma dengan karakter komposisi geokimia dan isotop yang khas sehingga gunungapi yang dihasilkannya pun tertentu karakternya. 

(1) Magma pre-collision atau magma hasil subduksi didominasi komponen proses subduksi berupa fluida yang kaya air berasal dari lempeng samudra yang masuk ke dalam mantel dan mengalami proses metasomatisme (perubahan kimia oleh cairan hidrotermal). Dalam periode ini adalah termasuk yang oleh Polvé et al (1997) dikelompokkan sebagai aktivitas magmatik kalk-alkalin umur Paleosen (61-59 Ma), lalu Oligosen sampai Miosen yang menghasilkan magmatisme berkomposisi toleitik busur kepulauan dan kalk-alkalin. 

(2) Magma syn-collision dicirikan oleh dominasi penciri komposisi sedimen yang lebih besar, artinya lempeng samudra yang masuk ke dalam mantel sudah membawa massa sedimen yang lebih besar berasal dari teran yang ditarik lempeng samudra ke dalam mantel. Kelompok ini adalah yang oleh Polvé et al (1997) disebut terjadi antara 13 dan 10 Ma dan menghasilkan magma kaya-K, basal alkali-potasik yang tidak jenuh silika, basanit ultrapotasik, atau shoshonite. 

Dalam kelompok ini termasuk yang diteliti oleh Bergman et al. (1996) di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Mereka menyimpulkan periode magmatisme dan vulkanisme Miosen Akhir sampai Pliosen menghasilkan batuan felsik-mafik berkomposisi kalk-alkali sampai agak alkali, potasik, dan shoshonitik berasal dari peleburan litosfer (lithospheric melting) pada Miosen Tengah-Pliosen (18-3 Ma). Berdasarkan data-data isotop Rb-Sr, Nd-Sm, dan U-Pb, senyawa oksida, dan unsur jejak, batuan asal leburan magma Miosen ini adalah teran benua berupa batuan kerak dan mantel litosfer berumur Proterozoik Akhir sampai Paleozoik Awal (1200-400 juta tahun) yang menjadi terpanasi dan lebur karena sebagian teran benua ini masuk ke dalam mantel dalam proses benturan antara teran benua asal Australia dengan kontinen Sundaland. 

(3) Magma post-collision dicirikan oleh leburan mantel yang berasal dari litosfer di bawah benua (sub-continental lithospheric mantle), artinya telah terjadi benturan/ collision. Magma periode ini berkomposisi alkali-potasik, ultrapotasik, dan shoshonitik. Magma post-collision juga dicirikan oleh rasio unsur-unsur Nb/Y (niobium/itrium) yang tinggi dibandingkan magma hasil subduksi. Magma post-collision juga punya rasio 87Sr/86Sr (stronsium) yang rendah dan rasio 143Nd/144Nd (neodimium) yang tinggi daripada magma tipe (2)/syn-collision. 

Demikian dengan bantuan analisis geokimia dan umur sampel serta banyaknya data, kerumitan magmatisme, vulkanisme dan hubungannya dengan tektonik yang mempengaruhi Sulawesi Selatan dapat diuraikan. Satu contoh gunungapi post-collision akan dijelaskan berikut ini: Gunung Lompobattang.

Gunung Lompobattang-Bawakaraeng di dekat ujung Sulawesi Selatan adalah gunungapi tipe post-collision yang merupakan gunungapi terakhir aktif di Sulawesi Selatan sampai sekitar 770 ribu tahun yang lalu.

Lompobattang dan Bawakaraeng adalah dua nama puncak berdampingan di sisi selatan dan utara satu gunungapi besar yang dikenal sebagai Gunung Lompobattang, Sulawesi Selatan.  Lompobattang dan Bawakaraeng, masing-masing punya ketinggian 2874 m dan 2845 m di atas muka laut. Dalam bahasa Makassar, Lompobattang artinya “si perut besar” sedangkan Bawakaraeng berarti “mulut sang raja”.

Seperti di tempat-tempat lain,  gunung menempati posisi khusus dalam kepercayaan tradisional penduduk sekitarnya. Begitu juga bagi penduduk Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bantaeng tempat puncak Bawakaraeng dan Lompobattang masing-masing berlokasi.  Untuk sebagian penduduk di sekitar gunung ini yang memeluk kepercayaan sinkretisme mereka meyakini bahwa Gunung Bawakaraeng adalah tempat pertemuan para wali penyiar agama Islam. Para penduduk yang berkepercayaan sinkretisme itu bahkan menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci Arab sana. Juga tepat pada tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang -demikian ditulis Wikipedia. 

Lompobattang-Bawakaraeng adalah gunungapi yang unik secara geologi sebab gunungapi ini baru muncul terakhir dan aktif setelah gunung-gunungapi lain mati di Sulawesi Selatan sebab subduksi lempeng samudra di bawahnya telah berakhir oleh tertutupnya samudra di sebelah timur Sulawesi bagian barat oleh benturan teran-teran Sula Spur yaitu Buton, Sulawesi Tenggara, dan Banggai ke arah Sulawesi Selatan. 

Yustinus Suyatno Yuwono, ahli gunungapi dari ITB (kini pensiun) pada 1987 melakukan penelitian Gunung Lompobattang sebagai bagian riset doktoralnya yang ditempuh di Prancis.  Penelitiannya atas Lompobatang dipublikasikan tahun 1989. Disebutkan bahwa diameter dasar gunungapi ini sekitar 55 km sedangkan volume produk letusannya diperkirakan 2000 km3 (Yuwono, 1989). Sebuah gunung yang besar, meskipun tidak terlalu tinggi, mungkin karena itulah oleh penduduk setempat ia dinamakan Lompobattang – Si Perut Besar. 

Peta geologi permukaan Lembar Ujung Pandang (Sukamto dan Supriatna, 1982). Sebaran endapan volkanisme Gn. Lompobatang luas. Diameter dasar 55 km dan volume letusan 2000 km3 (Yuwono, 1989) membuat namanya disebut Lompobattang – si perut besar.

Pak Yatno (begitu saya biasa memanggil beliau) melakukan pengamatan di sepanjang Sungai Jeneberang mulai dari sebelah selatan Malino sampai puncak Bawakaraeng. Di sini diperlihatkan bahwa mulai dari dasar sampai ketinggian sekitar 1100 mdpl produk gunungapi ini terdiri atas aliran-aliran lava basaltik yang cukup tebal yang berselingan dengan endapan lahar dan endapan piroklastika/abu vulkanik-tuf.  Di atas ketinggian 1100 mdpl didominasi oleh endapan piroklastika, dengan selingan aliran lava dan ada tubuh-tubuh intrusif berkomposisi andesitik. Zona puncak ditempati oleh kubah-kubah lava berkomposisi relatif asam. Sungai Jeneberang yang mengalir dari puncak Lompobattang ke arah barat menoreh badan gunungapi ini cukup dalam membentuk lembah memanjang yang memberikan singkapan-singkapan batuan vulkanik sangat bagus dan jelas. 

Penelitian Elburg dan Foden (1999) menunjukkan komposisi geokimia Lompobattang berkisar dari andesit basaltik sampai dasit, tetapi komposisi utama adalah andesit. Komposisi senyawa silikat (SiO2) berkisar antara 50-63%. 

Pak Yatno mengambil enam sampel batuan di Lompobattang untuk mengetahui umur gunungapi ini. Sampel lava di bagian bawah, di lereng, dan di puncaknya. Diukur dengan metode radiometri K/Ar (potassium/argon). Sampel di bawah menghasilkan umur 2,33 – 1,93 Ma (juta tahun yang lalu), di tengah 1,47 – 1,05 Ma, dan di kubah lava di puncak umurnya 0,77 Ma. Dengan demikian diketahui bahwa Gunung Lompobattang hadir dan aktif di Sulawesi Selatan dari 2,33 sampai 0,77 juta tahun yang lalu atau disebut di waktu geologi Kuarter -Plistosen.

Analisis geokimia lengkap (senyawa oksida, unsur minor, dan unsur langka) dan mineralogi dilakukan atas 29 sampel batuan Lompobattang. Pola kimiawi sampel-sampel batuan yang dianalisis memperlihatkan evolusi yang sangat menarik. Ada dua kelompok batuan yang berbeda (kelompok jenuh dan tidak jenuh silika) meskipun keduanya sama-sama bercirikan kekayaan akan unsur K (kalium/potassium). Kedua kelompok tersebut terkair erat dalam evolusi magmanya (kogenetik).

Dari pola geokimianya, Gunung Lompobattang ini diinterpretasikan dibentuk oleh magma hasil peleburan sebagian mantel atas yang terubah oleh metasomatisme (perubahan kimia oleh cairan hidrotermal) subduksi zaman dahulu (lebih tua dari 15 juta tahun yang lalu) dan dari peleburan sebagian mantel litosferik di bawah benua (subcontinental lithospheric mantle). Rasio unsur Nb/Y yang lebih tinggi dari magma hasil subduksi menunjukkan keterlibatan komponen intra-lempeng dalam magmatismenya, yang mungkin berasal dari  mantel litosferik di bawah benua. Yuwono et al. (1988) menyimpulkan bahwa magmatisme Lompobattang terjadi oleh peleburan di wilayah regangan di dalam lempeng (within-plate distensional regime) oleh material mantel yang termetasomatisme saat subduksi Miosen terjadi.  

Jadi Gunung Lompobattang ini tidak dibentuk oleh subduksi lempeng samudra yang seumur sebab saat gunung ini lahir dan aktif tidak terjadi lagi subduksi di sebelah timur Sulawesi sebab terjadi benturan/collision dengan teran-teran benua. Mengapa magma dari jenis ini terjadi di Sulawesi Selatan tidak diketahui alasannya. Bisa saja alasannya berhubungan dengan ekstensi atau peregangan di wilayah yang berhubungan dengan sesar-sesar mendatar seperti pembentukan Graben Walanae tempat Gunung Lompobattang terjadi.

Demikian sebuah cerita tentang gunung-gunungapi di Sulawesi Selatan, yang sungguhpun sudah mati, mereka merekam jejak rumit geodinamika dan tektonika Sulawesi.***

Gunung Lompobattang terjadi di Graben Walanae, suatu area regangan di kerak bumi. Magma hasil leburan bagian bawah kerak benua dan mantel naik ke permukaan wilayah regangan ini dan melahirkan Gunung Lompobattang pada periode 2,33 – 0,77 juta tahun yang lalu.

Sketsa skematik awal geologi menunjukkan posisi tektonik Gn. Lompobattang di atas kerak benua yang menebal oleh benturan dengan mikrokontinen/teran Australoid, Cekungan Bone yang dilandasi kerak samudra yang terjepit dan lepas saat benturan terjadi, dan zona metamorfik Mekongga di Sulawesi Tenggara yang mungkin tergeser ke arah timur oleh pembukaan Cekungan Bone pascabenturan. Magma Lompobattang berasal dari anateksis atau peleburan sebagian kerak benua dan mantel litosferik di bawah benua (subcontinental lithospheric mantle). Jadi Gunung Lompobattang bukan gunungapi hasil subduksi, tetapi gunungapi peleburan magma pascabenturan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *